Cerita Panas Hatiku, Hatimu, Hati-hati – Part 4

Cerita Panas Hatiku, Hatimu, Hati-hati – Part 4by on.Cerita Panas Hatiku, Hatimu, Hati-hati – Part 4Hatiku, Hatimu, Hati-hati – Part 4 Muslihat… Sayang,,, Adakah yang lebih berbahaya dari manusia yang tak mampu mengendalikan hasratnya?,,, Setelah kejadian yang hampir berujung pertumpahan darah, suasana Desa Seruni menjadi semakin mencekam. Meski matahari tengah berada dipuncak singgasana dengan sinarnya yang menyilaukan, warga lebih memilih berada dirumah, para orang tua melarang anak-anaknya bermain diluar. Sikap […]

multixnxx- Kosaka Kosaka Asian plays with tongue ar-6 (2) multixnxx- Kosaka Kosaka Asian plays with tongue ar-6

Hatiku, Hatimu, Hati-hati – Part 4

Muslihat…

Sayang,,, Adakah yang lebih berbahaya dari manusia yang tak mampu mengendalikan hasratnya?,,,

Setelah kejadian yang hampir berujung pertumpahan darah, suasana Desa Seruni menjadi semakin mencekam. Meski matahari tengah berada dipuncak singgasana dengan sinarnya yang menyilaukan, warga lebih memilih berada dirumah, para orang tua melarang anak-anaknya bermain diluar.

Sikap waspada dan saling curiga tergambar jelas pada wajah-wajah yang sebelumnya diselimuti kedamaian.

Pohon-pohon besar yang banyak tumbuh disetiap sudut Desa, yang dulu menjadi pemandangan menarik bagi siapapun yang memandang, kini seakan berubah menjadi bayang-bayang raksasa yang menyelimuti penduduk Desa Seruni dalam kecemasan dan ketakutan.

Seorang lelaki dengan pakaian parlente tampak duduk diatas mobil jeep yang diparkir tidak jauh dari badan jalan, terlindung oleh sebuah pondok yang tak lagi berpenghuni. Ditemani oleh seorang lelaki bertubuh besar yang tak henti memainkan kunci ditangan.

Juragan yakin, cowok itu ada didalam?,,, tanya Yanto yang tampak tak berminat pada bangunan bercat putih yang tak lepas dari pandangan Juragan Wira yang kepalanya terlindungi oleh topi koboi yang lebar. Sudah hampir satu jam Wira mengamati Puskesmas dari tempat yang dianggapnya aman..

Apa kamu tidak lihat motor dinas itu?,,, jawab Wira sambil menggeleng-gelengkan kepala, berusaha memaklumi keterbatasan orang kepercayaannya, yang lebih mengandalkan kemampuan otot dibandingkan otak yang ada dikepalanya.

Tidak lama keluar seorang lelaki muda dari bangunan yang menjadi objek perhatian keduanya, melepas senyum kepada seorang wanita yang juga tersenyum dengan tatapan penuh binar cinta. Perban yang sejak kemarin membalut lengan pemuda itu tampak sudah berganti dengan kain kasa yang baru.

Kampreeet!… umpat Wira, memukul dashboard dengan kesal saat menyaksikan bagaimana Maysarah mencium tangan Radian, lalu melepas kepergian lelaki itu dengan lambaian tangan.

Setelah motor Radian menghilang dari pandangan, Wira bergegas turun dari mobil.

To,,, kamu tunggu disini,,, ucapnya penuh emosi, lalu mengayun langkah panjang, bergegas menuju bangunan Puskesmas yang sudah tampak sepi.

Tok,, tok,, tok,,
Wira mengetuk pintu yang sudah ditutup dengan cukup keras, namun belum lagi penghuninya membukakan pintu, Wira sudah membukanya terlebih dahulu, seakan telah biasa berkunjung ketempat itu.

Selamat pagi cantik,,, sapa Wira, berusaha tersenyum lembut namun lebih terlihat layaknya sebuah seringai yang menakutkan.

Pak Wira,, ucap Maysarah berusaha menyembunyikan kekagetannya atas kehadiran lelaki itu.

Wira terus tersenyum, berjalan mengelilingi tubuh Maysarah yang berdiri kikuk. Mata lelaki itu tajam menatap wajah Maysarah yang berusaha tetap tersenyum, menayang lesung pipit yang membuat senyumnya semakin manis.

Saat berada dibelakang Maysarah pandangan nya beralih menikmati keindahan tubuh yang dibalut kain satin lembut yang mencetak keindahannya dengan sempurna. Ingin sekali Wira memeluk dan menikmati cita rasa seorang Maysarah. Meremas setiap lekukan tubuh yang begitu menggoda.

Selamat ya,,, tampaknya dirimu tidak lama lagi akan menjadi nyonya Radian,

Tidaak,, jangan salah paham pak,, saya dan Pak Radian hanya berteman, lagipula Pak Radian juga sudah memiliki istri,,

Yaa,,, dia memang sudah memiliki istri, tapi tidak ada salahnya kan kalo dia memiliki satu istri lagi di desa ini,,, Wira memandang dengan raut wajah mengejek wanita cantik didepannya, melipat kedua tangan didada lalu menyandarkan tubuh didinding.

Matanya terus bergerak liar, tak bosan memandangi gundukan payudara yang tersembunyi dengan rapi dibalik jas dinas putih.

Aku cuma ingin mengingatkan akan pesan almarhum suami mu,,, pastinya kau tidak ingin tidurnya didalam tanah sana menjadi gelisah,

Wajah maysarah berubah pucat, sekaligus kesal.
Juragan Wira lah yang berusaha menolong suaminya saat motor yang dikendarainya ditabrak oleh sebuah truk batubara yang melaju kencang saat suaminya baru keluar dari Desa Seruni.

Ingat, May,,, sebelum suami mu menghembuskan nafas terakhirnya, aku lah yang diminta suamimu untuk menggantikannya menjagamu,, dan tanyalah Yanto yang menjadi saksinya, ucap Wira yang kini berdiri dibelakang Maysarah, kalimat yang sudah puluhan kali diucapkannya ditelinga wanita itu.

Jadi,,, kapan kau akan menerima lamaran ku?,,, Wira memeluk tubuh Maysarah dengan mesra, membuat wanita itu terkaget lalu dengan cepat melepaskan pagutan tangan Wira yang berlabuh tepat diatas payudaraya.

Maysarah berusaha lari kearah pintu, tapi gerakannya kalah gesit oleh Wira yang telah berdiri didepan pintu yang tertutup sambil tertawa.

Paaak,,, jangan berbuat kurang ajar,, apa bapak belum puas dengan wanita-wanita yang sudah bapak miliki,, lagipula kalaupun saya akan menikah lagi saya tidak ingin menjadi yang kedua ataupun yang ketiga,,,

Ohh ya?,,, hebaaat,,, Wira bertepuk tangan dengan tawa yang semakin lebar Itu artinya kau juga tidak akan menerima lamaran Radian seandainya lelaki itu melamar mu?,,

Mendengar kata-kata Wira, wajah Maysarah yang dipenuhi rasa takut sekaligus emosi berubah murung.

May,,, aku bisa saja memaksamu untuk melayaniku, tapi aku tidak ingin melakukan itu karena aku ingin kau melayaniku layaknya seorang istri,

Ok,, cukup,,, Aku hanya ingin menyampaikan itu saja, karena aku harus menghadiri rapat dibalai desa memenuhi undangan Pak Lurah kita yang terhormat itu,, Wira mengambil topi koboi yang tadi diletakkannya diatas meja lalu mendekati Maysarah dan berdiri tepat didepan wanita itu dengan tubuh yang hampir bersentuhan.

Pastinya kamu tidak ingin Radian mengalami nasib yang sama seperti suami mu kan?,,,

Maysarah mundur beberapa langkah, tubuhnya gemetar mendengar kalimat yang tidak bisa ditafsirkan nya dengan sempurna, tapi itu justru mengundang tawa Juragan Wira.

Baiklah Bu Mantri,, saya pamit dulu,, ucapnya, hanya dalam hitungan detik raut wajah lelaki itu berubah menjadi lembut, wajah ramah yang kerap dipamerkannya dihadapan Radian dan seluruh penduduk Desa Seruni. Lalu membuka pintu dan meninggalkan Maysarah yang masih tampak gemetar.

Telah lama Maysarah merasakan ketakutan yang berlebihan saat berhadapan dengan lelaki itu, meski berkali-kali menolak lamaran Juragan Wira, lelaki itu selalu tampak ramah terhadapnya. Meski ada sesuatu hal ganjil yang dirasakan wanita itu pada diri Juragan Wira.

Tapi kali ini Maysarah melihat sosok Wira tak ubahnya layaknya iblis yang memiliki seribu cara memaksa siapapun untuk mengikuti apa yang diinginkannya. Dan suaminya,,, adakah keterkaitan Wira dengan kematian suaminya yang begitu tragis.

Berbagai pikiran yang menakutkan menghantui dirinya, membuat tubuh wanita itu serasa lemas tak bertenaga dan memilih untuk menjatuhkan tubuhnya diatas kursi kerjanya.

Dengan gemetar tangan lentiknya membuka laci meja, lalu mengambil botol kecil dengan cairan putih pekat didalamnya.

* * *

Balai desa seluas 12×8 meter yang dibangun secara swadaya oleh masyarakat, hanya berdindingkan tembok setinggi satu meter, telah penuh sesak oleh warga Desa Seruni. Beberapa asik berbisik-bisik dengan mata bergerak mengawasi beberapa wanita yang ada disana dengan curiga. Beberapa lainnya diam mematung diatas kursi lipat yang disusun rapi, menampilkan wajah tak tenang dan gelisah.

Semua wajah memandang kearah Radian, saat lelaki itu datang diiringi oleh Zaelani dan Lestari, lalu duduk dibangku depan yang menghadap kearah warga. Dengan hormat Radian meminta kepada Julak Mahmud untuk duduk disampingnya. Begitupun dengan Juragan Wira yang datang terlambat, menebar senyum ramah saat menjabat tangan Radian dengan hangat.

Tidak perlu waktu lama, rapat desa yang dimulai dalam keadaan tegang itu dengan cepat menjadi riuh, Julak Jawir yang sejak awal berusaha untuk tenang langsung tersulut emosinya saat salah seorang warga menganggap apa yang terjadi di desa mereka tidak lebih dari sekedar musibah.

Apa kamu masih bisa bilang ini hanya musibah saat pembunuh cucumu atau anakmu berkeliaran bebas sambil tertawa, Hah?,,, teriak Julak Jawir penuh emosi, sambil menangis Bu Syamsiah berusaha menenangkan ayahnya.

Tenang Julak Jawir, duduklah dulu, kita tidak mungkin mencari jalan keluar bila semua orang berbicara dengan berteriak,,, Radian berusaha menenangkan. Julak Mahmud, apakah ada jalan keluar untuk masalah ini?,, apakah ada cara untuk menemukan dan menangkap kuyang itu?,,,

Julak Mahmud berdehem, wajah nya yang tampak keras ditempa oleh zaman, membuat siapapun yang memandang merasa getir.

Tidak ada cara untuk menemukan kuyang itu saat disiang hari, walaupun kalian memeriksa leher seluruh wanita didesa ini, itu tak akan berhasil, satu-satunya cara adalah menangkap langsung kepala wanita itu atau menemukan tubuh yang disembunyikannya, terang Julak Mahmud, matanya tajam membalas tatapan seluruh warga yang memandang kearahnya.

Bakarlah kulit bawang merah saat kalian sedang merasa tidak nyaman, dan susunlah batang bambu yang panjang disekitar rumah, itu dapat menakut-nakuti kuyang bila ingin mendekati rumah kalian, sambung lelaki tua itu.

Ada rona kecewa diwajah warga, tidak ada yang lebih mengetahui tentang kuyang selain Julak Mahmud yang telah mengelana keberbagai pelosok tanah borneo. Maka saat lelaki tua itu menyatakan tak dapat berbuat banyak atas apa yang menghantui desa mereka, kekecewaan seketika menyeruak.

Merasa tidak ada jalan keluar yang dapat memberikan ketenangan kepada warganya, Radian akhirnya meminta kepada seluruh warga agar tenang namun tetap waspada. Bu Salmi yang tengah hamil tua diminta untuk mengungsi ketempat keluarganya yang berada jauh dari Desa Seruni.

Begitupun dengan warga lainnya diminta bila memiliki keperluan keluar malam agar tidak sendiri. Ronda malam yang biasa dilakukan secara bergiliran kini ditambah hingga sepuluh orang.

Meski itu bukan jalan keluar yang terbaik, namun tak ada hal lain yang dapat dilakukan warga. Akhirnya pertemuan itu selesai tanpa ada jalan keluar yang nyata, warga kembali kerumahnya dengan membawa kecemasan yang semakin dalam.

Kasak-kusuk bisik-bisik warga kini tidak hanya membicarakan kuyang yang masih bergentayangan didesa mereka, tapi juga membicarakan ketidakmampuan Lurah mereka dalam menyelesaikan masalah ini, tapi lagi-lagi warga tidak dapat berbuat banyak, karena siapapun yang memimpin desa saat mengalami masalah seperti ini jelas akan kebingungan atau bahkan tak berdaya.

Pak Lurah, saya tau ini sangat berat bagi bapak, tapi walau bagaimanapun bapak harus bisa menyelesaikan masalah ini, saya tidak bisa terus mendukung dan melindungi bapak bila warga semakin kecewa dengan kepemimpinan Pak Lurah,,, ucap Juragan Wira dengan serius.

Sikap Juragan Wira yang sedikit sinis membuat Radian terkejut, memang selama ini Juraga Wira lah yang berdiri dibelakangnya.

Tapi Pak Lurah tidak perlu takut, kita pasti bisa menyelesaikan masalah ini, ingat!,, berusahalah untuk tetap rileks sehingga kita bisa berfikiran jernih,, ucap Juragan Wira dengan wajah yang sudah kembali ramah.

Perubahan sikap Juragan Wira jelas membuat Radian bingung, tapi lelaki itu mencoba berfikir positif karena apa yang dikatakan Juragan Wira memanglah benar.

Perhatian kedua lelaki itu tiba-tiba beralih pada sosok wanita yang duduk dikursi paling belakang, yang terlihat dengan jelas saat warga telah meninggalkan balai desa.

Keduanya melemparkan senyum, namun dengan suasana hati yang berbeda. Kehadiran Maysarah seakan mampu sedikit meringankan beban dipundak Radian. Tapi tidak bagi Juragan Wira yang memaksakan bibirnya agar tersenyum, namun tangannya meremas pinggiran meja dengan kuat, berusaha menyembunyikan emosi saat senyum Maysarah ditujukan kepada Radian.

Baiklah,, saya harus pulang dulu,,, berhati-hatilah Pak Lurah,,, ucap Wira lagi-lagi melempar senyum yang kali ini terlihat dipaksakan. Radian menjabat tangan lelaki itu dengan hormat.

Saat melewati bangku Maysarah, Juragan Wira melemparkan seringai menakutkan yang membuat mata Maysarah seketika menunduk.

Radian segera berdiri berniat mendekati Maysarah, tapi langkahnya terhenti oleh sebuah suara.

Heeey,, anak muda, seru Julak Mahmud, mengingatkan Radian bahwa masih ada orang lain didekatnya, lalu berpaling kearah Julak Mahmud yang memendar rasa tidak suka atas sikap nya.

Eh,,,maaf, Julak Mahmud, ucap Radian sedikit membungkukkan tubuhnya untuk menunjukkan hormat kepada lelaki itu. Apakah memang tidak ada lagi cara untuk mengetahui siapa yang menjelma menjadi kuyang itu?,,, tanya Radian, yang tampak masih penasaran.

Ada,,, sambung Julak Mahmud, suara seraknya terdengar bergema, bila ada yang berani menggunakan minyak kuyang itu maka dirinya akan dengan mudah dapat mengetahui siapa yang selama ini menggunakan minyak itu untuk memuaskan ambisi dan hasratnya,,

Seketika suasana menjadi hening, jalan keluar yang dibeberkan Julak Mahmud mustahil untuk dilakukan, jelas tak ada seorang pun yang ingin mengorbankan hidupnya dan bersedia terikat pada minyak itu seumur hidupnya.

Tanpa sepengetahuan Radian, wajah Maysarah tampak memucat, gelisah seketika menyelimuti wanita cantik itu.

Julak Mahmud terkekeh sambil memandang Radian yang mematung bingung, Hati-hatilah dengan gairahmu,, gairah yang bisa membuat mu celaka,, pesan lelaki tua itu, pesan yang membuat Radian bingung, namun hanya mampu menatap lelaki yang melangkah menjauh dengan dibantu tongkatnya.

Saat melewati bangku Maysarah, lelaki tua itu kembali menghentikan langkahnya, lalu memukulkan tongkatnya ke lantai layaknya sebuah perintah bagi wanita cantik itu untuk mengangkat wajah yang tertunduk.

Kesedihan mu teramat dalam, hingga menutupi keindahan yang kau miliki,,, hehehe,,, lelaki tua itu mencondongkan tubuhnya ke depan lalu berbisik pelan, Bila kamu ingin meluahkan belenggu dihatimu, maka salurkanlah melalui gairah yang kau pendam, bukan dengan jalan yang lain!,,, meski terdengar pelan, tapi intonasi kalimat yang terucap dari mulut lelaki tua itu mampu menghentakkan dinding hati Maysarah.

Julak Mahmud menegakkan tubuhnya, sesaat memandangi tubuh Maysarah lalu melangkah pergi sambil tertawa terbahak
Hahahahaa,,, anak-anak yang nakal,,,

Radian dan Lestari mendekati Maysarah yang telihat pucat. Ada apa, Kak May,,, apa ada perkataan Julak Mahmud yang mengganggu pikiranmu,, tanya Lestari, duduk disamping wanita itu.

Ehh,, tidak,, tidak apa-apa,,, Eeeng anu,, Tari, mungkin dalam beberapa hari ini aku akan ke kota, aku rindu pada Hudan, sudah beberapa hari aku tidak bertemu dengan anakku,,, ungkap Maysarah, membeber keinginan yang sebelumnya sama sekali tidak direncanakan.

Tari,,, tolong jagain Kak Radi ya,,, kalo dia nakal jewer aja,,, dibalik jilbab yang menutup wajah cantiknya wanita itu berusaha tersenyum dan tertawa.

Tenang saja Kak May,,, nanti kalo Pak Radian nakal biar aku yang mites,,,hihihi,,, lagian saya ini cuma persinggahan koq, terminalnya kan ditempat kaka,, goda Lestari sambil mencolek pinggang Maysarah, keceriaan gadis itu sedikit mencairkan suasana.

Eeenghh,,, apa ada yang bisa mengantar saya ke luar desa, mungkin saya naik bis saja,

Owhh,,, kebetulan, pak Zaelani menitipkan pickup-nya, jadi motor Kak May titipin sama aku aja,,, jawab Lestari cepat sambil menyerahkan kunci mobil milik Zaelani.

Lhoo,, memang Zaelani kemana?,, Radian baru menyadari jika bawahannya itu sudah tidak ada ditempat.

Tadi sih aku liat pulang duluan sama Ratna,, hihihi,, tawa Lestari seakan menyatakan jika gadis itu juga sudah mengetahui skandal antara Zaelani dan Ratna yang selalu mencari-cari kesempatan untuk berdua.

Akhirnya ketiga orang itu berpisah, Radian mengantar Maysarah dengan menggunakan pick-up milik Zaelani. Tak ada percakapan berarti disepanjang jalan menuju keluar Desa Seruni, masing-masing sibuk memikirkan pesan Julak Mahmud sesaat yang lalu.

Ketika mobil telah sampai dimuara kampung, Radian menghentikan mobil disisi jalan, menatap Maysarah yang masih terdiam membisu, menatap wajah cantik dengan hidung mancung yang terlihat murung. Meski tidak sedang tersenyum lesung pipitnya yang menggemaskan tetap jelas terlihat.

Cantik,,, gumam hati Radian mengaggumi kecantikan alami seorang gadis desa yang duduk disampingnya.

May,,, panggilan Radian mengagetkan Maysarah.

Tapi baru saja wanita itu menoleh, Radian sudah melabuhkan bibirnya ke bibir Maysarah, sesaat wanita itu terpaku dengan mengatup rapat bibirnya, namun tak berlangsung lama bibir tipisnya terbuka, menyambut kehangatan bibir Radian yang dengan cepat menjelajah masuk.

Eemmmpphh,,, eeengghh,,, bibir Maysarah tak kalah beringas meladeni lumatan Radian yang penuh nafsu, membiarkan ludah yang melekat dilidah dihisap dengan rakus oleh lelaki yang dicintanya.

Wanita itu seakan ingin meluahkan segala perasaan dihati, meluahkan cinta yang tertahan dalam kehangatan yang ditawarkan Radian, maka tak ada penolakan saat lelaki itu menjamah payudaranya yang membusung. Melenguh, mendesah, merintih tertahan.

Hanya mampu meremas tangan Radian yang menjelajah dengan nakal puncak gunung yang masih terbungkus rapi. Begitupun saat lelaki itu berusaha menyelusupkan tangan kebalik blus putihnya yang seketika membuat tubuhnya menggeliat.

Oooowwwhhhssssss,, Kaaaaaak,,, bibirnya yang telah bebas dari kerakusan Radian merintih dengan nafas yang memburu.

Mata Maysarah menatap sayu wajah Radian. Meski sempat bingung dengan gairah Radian yang begitu tiba-tiba, tapi wanita itu tak mampu menolak saat tangan Radian menagih sesuatu yang lebih nakal, hanya bisa pasrah memandang gerakan tangan berbulu yang berusaha menyingkap rok panjangnya.

Dengan perlahan kain lembut itu menampilkan kelembutan dari kulit mulus yang dilindunginya. Wajah Maysarah bersemu merah saat Radian memandang paha putihnya dengan wajah kagum.

Ada kebanggan menyeruak sebagai seorang wanita, saat menyaksikan bagaimana tangan Radian mengusapi paha sekal nya yang kencang berisi, dengan kekaguman yang terlihat jelas.

Namun sesaat kemudian jantungnya berdetak cepat saat telapak tangan itu bergerak semakin keatas, menuju pangkal selangkangannya. Ooooooogghhh,,,, Eeeegghhhh,,, tubuh wanita itu menggeliat liar saat daging yang terlindungi oleh kain tipis disentuh dengan lembut.

Tubuhnya gemetar, memeluk tubuh Radian dengan erat tanpa niat menghentikan keinginan lelaki itu yang menjelajah punuk cembung daging yang belahannya kini diusapi jari tengah yang terhalang oleh kain pelindung.

Dengan tubuh gemetar kaki Maysarah bergerak membuka, seakan ingin memamerkan apa yang dimilikinya dibalik tubuh yang selalu tertutup oleh gaun.

Tooooooooooottttttt,,,,
Klakson panjang dari bis besar yang melintas mengagetkan dua anak manusia yang tengah diamuk birahi. Khususnya Radian yang seakan baru tersadar dari segala aksi nakalnya.

Maaf may,,, maaf,, aku,, aku sungguh tidak sadar dengan apa yang kulakukan,, Radian berusaha mengatur nafasnya. Matanya masih sempat melirik pada selangkangan Maysarah yang terbuka bebas.

Dengan cepat Maysarah menurunkan rok, merapikan pakaiannya, wajahnya pucat pasi, meski disana ada sebersit bahagia yang mengintip.

Biar aku carikan bis untuk mu,,, ucap Radian lalu membuka pintu mobil dan beranjak keluar.

Hati Maysarah gundah gulana, benarkah tadi Radian mencumbu tubuhnya dalam kondisi tidak sadar, tidak adakah rasa cinta yang menuntun gerak tangan lelaki itu saat mengagumi setiap lekuk tubuh nya.

Maysarah menyusul melangkah keluar, menatap Radian yang berdiri tegap dipinggir jalan provinsi yang lengang. Kakinya seakan dituntun untuk mendekat lalu memeluk tubuh lelaki itu dari belakang. Tak ada kata-kata yang keluar, hanya pelukan hangat yang penuh dengan rasa cinta.

* * *

Aqila tidak sekolah?,,, tanya Radian seraya menyambut es teh pesanannya yang dibikinkan oleh Aqila. Setelah mengantar Maysarah dan memastikan wanita itu naik di bis yang benar, Lurah Desa Seruni itu menyempatkan diri mampir ke warung Isma untuk sedikit menenangkan diri atas kejadian antara dirinya dan Maysarah sesaat lalu.

Berbagai pertanyaan muncul dihatinya, bagaimana mungkin kesadarannya dengan tiba-tiba diambil alih oleh nafsu yang tak terkendali, meski menyadari semua perbuatannya tetap saja Radian bingung atas gairah yang begitu besar didirinya.

Sekolah koq,, ini aja seragammnya belum diganti,, tadi semua murid dipulangin karena guru-gurunya ikut rapat dibalai desa, kan tadi Om sendiri yang memimpin rapatnya,, jawabnya, lalu duduk dibangku dan kembali menyibukkan diri dengan HP canggih ditangan, hadiah dari ayahnya Juragan Wira.

Oohh,, jadi tadi guru-guru ikut rapat juga ya, saya sampai tidak sempat memperhatikan,,, Ehh,,, Ibu mu kemana, kenapa kamu yang jaga warung?,,,

Hihihi,,, biasa Om,, ibu lagi melayani ayah dikamar,, kan minggu ini jatahnya ibu,,,

Radian tersenyum kecut, meski masih menggunakan bahasa yang sopan, tetap saja terdengar ganjil ditelinga, karena kalimat itu diucapkan oleh anak gadis belasan tahun.

Tanpa sadar mata Radian terpaku pada gaya duduk Aqila yang sembarangan, mengangkat kedua kakinya keatas bangku, dan membiarkan rok seragam abu-abu selututnya tersingkap menayang paha mulus gadis belia.

Apakah benar ucapan Zaelani, gadis seusia Aqila sudah layak untuk dinikmati seperti halnya Ratna,,, pikir Radian dengan tatapan tertuju pada selangkangan Aqila yang semakin tersibak. Meski sama-sama mungil, wajah cantik dan tubuh Aqila yang lebih padat berisi jelas lebih menggiurkan untuk dinikmati.

Tiba-tiba wajah Radian tersentak saat menyadari mata Aqila menangkap aksi nakalnya, tapi gadis itu cuma tersenyum lalu kembali memainkan HP ditangan, seolah kenakalan mata Radian adalah hal yang biasa.

Baru saja Radian berusaha mengalihkan pikiran yang begitu mudah terprovokasi oleh nafsu, Isma keluar dari dalam rumah dengan tangan yang sibuk merapikan rambut yang agak berantakan.

Lhoo,, ada Pak Lurah ya,,, koq Aqila tidak ngasih tau ibu sih,,,

Sudah koq,,, tapi suara Qila kalah sama desahannya ibu,,,

Sontak wajah Isma memerah menahan malu mendengar celoteh anak gadisnya, bergerak salah tingkah, berusaha menghindari kontak mata dengan Radian.

Tidak apa-apa bu, lagian pesanan es teh saya sudah dibikinkan oleh Aqila,,, jawab Radian yang berusaha kembali mencairkan suasana.

Tapi lelaki itu kembali terkejut oleh ulah Aqila yang tersenyum semakin lebar sambil merentang kedua pahanya, seolah sengaja menggoda Radian, memanjakan mata lelaki itu dengan paha mulus dengan selangkangan terbalut kain segitiga tipis.

Dengan cepat Radian mengalihkan pandangannya kepada Isma yang sibuk merapikan beberapa piring kue yang telah kosong. Tapi lagi-lagi Radian justru disuguhi pemandangan menggiurkan, bulat payudara Isma yang mengintip dari celah kancing gaun yang terbuka.

Sial,,, umpat Radian tanpa suara, dirinya sangat yakin jika matanya benar-benar menangkap pemandangan payudara yang tak terbungkus oleh bra. 36b kencang, padat berisi, gumamnya.

Pak Lurah mau sekalian makan siang?,,, biar saya siapkan, masih ada nasi rawon dan nasi sop lho,,, tawar Isma, bibirnya berusaha menebar senyum yang membuat wajah cantiknya semakin nikmat dipandang.

Ehh,, eengh,, nasi rawon saja bu,, kebetulan tadi pagi saya belum sempat sarapan, jawab Radian tergagap. Pantaslah Aqila memiliki wajah yang cantik dengan tubuh padat berisi, tidak berbeda jauh dengan ibunya.

kenapa desa kita jadi menegangkan dan menakutkan seperti ini ya, pak,, celoteh Isma diantara gerak tangannya yang dengan cekatan menyajikan pesanan Radian. Tapi itu justru membuat payudaranya yang mengintip dari celah dua kancing yang terbuka bergerak-gerak menggoda hasrat Radian.

Entahlah bu,, saya juga bingung, ini pertama kalinya saya mendapati kejadian seperti ini,,, Eehh,,, Juragan Wira ada didalam?,,, tanya Radian seraya menyambut huluran tangan Isma yang menyerahkan nasi rawon dengan kuahnya yang penuh, sebuah pertanyaan yang dilontarkan sekedar pemanis obrolan.

Radian reflek meneguk liurnya, saat celah pada pakaian Isma menayang dengan sempurna keseluruhan bentuk payudara kanan dengan puting mungil yang menggoda.

Eehh,, maaf pak, tadi saya buru-buru,, Isma yang menyadari kemana arah tatapan Radian dengan cepat menutup dan mengancingkan bajunya, wajah wanita itu tampak memerah menahan malu. Kak Wira masih didalam, mungkin ketiduran,, jawabnya berusaha mengalihkan rasa malu.

Akhirnya Radian makan dalam kondisi yang tidak tenang, bagaimanapun matanya telah menangkap dengan jelas bentuk tubuh Isma yang kini tertutup lebih rapi. Mengalihkan perhatiannya pada Aqila yang terlihat berusaha menahan tawa.

Sial,,, lagi-lagi Radian mengumpat, pasti Aqila melihat apa yang baru saja terjadi.

Santai saja Om, Ayah Wira pasti lagi pulas ketiduran, kecapean setelah bertempur,, hihihi,,, kan ibu ganas banget kalo lama tidak dapat jatah,, ucap gadis itu. Entah bertujuan menggoda ibunya ataukah untuk mengejek Radian yang tampak merasa bersalah.

Huusss,, kamu ini,,, ayo cepat ganti seragammu nanti kotor,,

Iya bu,, iyaaa,, jawabnya bangkit dari bangku, Ehh,, Om Lurah, mau kekantor kelurahan lagi?,,, kalo mau kesana Qila ikut ya, mau kerumah Ratna,,

Radian cuma mengangguk, tidak mungkin mengelak, karena dirinya memang hendak kembali kekantor kelurahan.

Tidak lama Aqila sudah kembali keluar, menenteng tas berisi beberapa buku. Ayo Om,, makannya sudah selesaikan? ,,, ajaknya dengan cuek.

Aqila!,,, yang sopan, ibu tidak pernah mengajarkan kamu jadi anak yang tidak tau sopan santun seperti itu,,, mata Isma melotot, tidak tahan lagi dengan tingkah Aqila yang membuatnya terus merasa malu didepan Radian.

Tidak apa-apa bu,, saya memang sudah selesai koq,,, celetuk Radian, berdiri untuk mengambil uang dari kantong celana, lalu menuju mobil setelah menerima uang kembalian.

Masih dengan gayanya yang centil, Aqila yang sudah mengganti pakaiannya dengan sweter dan legins putih selutut, naik keatas mobil. Isma cuma bisa menggeleng-gelengkan kepala melihat ulah centil putrinya.

Saat Radian mulai menekan gas mobil dan bergerak meninggalkan warung, Juragan Wira keluar dari dalam rumah dengan wajah tersenyum puas, seolah telah lama memperhatikan seluruh kejadian diwarung istri kedua nya itu.

Aqila memang tidak jauh berbeda dengan dirimu yang cantik dan montok hanya saja jauh lebih genit,, ucap Juraga Wira menghampiri Isma lalu memeluk dari belakang, tangannya bergerak melepas kembali dua kancing Isma yang tadi terbuka, lalu dengan gemas meremas dan memainkan puting wanita itu.

Tapi Isma cuma menggeleng-gelengkan kepala, seakan bisa membaca pikiran suaminya.

Terimakasih sayang, kamu memang bisa diandalkan,,, hehehe,, ungkap Wira seraya meremas kedua payudara Isma dengan lebih kuat. Namun wanita itu justru tampak murung, seakan tidak setuju dengan apa yang direncanakan oleh suaminya.

Tutuplah warungmu dan ikutlah denganku sebentar,,, perintah Wira yang dijawab Isma dengan anggukan kepala.

* * *

Terimakasih, Pak,,, seru Aqila, lalu berlari ke rumah Ratna yang berada tepat disamping kantor kelurahan. Meninggalkan Radian yang menatap gemas atas semua ulah gadis belia itu.

Zaelaniii,,, Zaee,,, panggil Radian, saat mendapati pintu kantor tidak dalam keadaan terkunci, mengira lelaki itu mungkin berada didalam, namun setelah mencari kedalam bangunan yang hanya memiliki satu ruang pelayanan dan dua ruang kerja, keberadaan Zaelani tetap nihil.

Pergi keluar koq pintunya tidak dikunci,, sembarangan,,,” gumam Radian. Sebelum masuk keruangannya lelaki itu menyempatkan mengamati meja Lestari yang selalu terlihat rapi. Mungkin gadis itu langsung pulang kerumah setelah berpisah dengannya di balai desa yang terletak disebrang Kantor Kelurahan.

Aiiihhh,,, Lestari,,, ucap Radian, saat teringat peristiwa dirumah Zaelani yang hanya berjarak beberapa rumah dari kantor kelurahan, berdampingan dengan rumah dinas yang ditempatinya.

Masih lekat diingatannya keindahan tubuh Lestari saat menggeliat dan merintih manja ketika batang perkasanya menggahi liang perawan gadis itu.

Oooom,,, Om ada didalam kan,,, kembali terdengar suara centil Aqila, namun kali ini datang dengan wajah merengut.

Lhooo,, ada apa Qila, kenapa cemberut gitu,, Ratna nya tidak ada ya?,,,

Ada koq,,, tapi lagi main kuda-kudaan sama Uwak Zaelani,,, jawab gadis itu dengan sewot lalu menghempaskan pantatnya diatas sofa tamu yang ada diruangan Radian.

Anjiiierrr,,, Zaelaniii,,, Radian menepuk jidatnya. Jam didinding sudah menunjukkan pukul dua lebih, apakah itu artinya Zaelani sudah menggarap tubuh Ratna dua jam lebih.

Qila yakin?,,,

Ya iyalah,,, kan pintunya ga ditutup, Qila liat sendiri Ratna nungging dikasur lagi ditunggangi uwak Zaelani,,,

BONG!!!…
Keterangan Aqila membuat Radian tersenyum kecut.

Ehh tapi sepertinya Uwak Zaelani itu badannya aja yang besar, tapi itunya biasa-biasa aja,,,

Huusss,,, kamu ini, ga boleh ngomong jorok,,
Aqila nyengir, menampilkan gigi kelincinya, Om,, nyalain kipas anginnya dong,,,

Radian menggeleng-gelengkan kepala, berusaha menebak-nebak sejauh mana pengetahuan gadis itu tentang masalah seks, lalu memencet saklar kipas angin yang ada dibelakangnya.

Tapi saat Radian berbalik, Aqila tengah melepas sweternya menampilkan tubuh montok belia yang hanya terbalut tank top kuning dan legins putih selutut, mencetak tubuhnya dengan sempurna. Gapapa kan om? Habisnya gerah,,, ucapnya lalu melemparkan sweter kebahu sofa.

Iya,, silahkan,, menunggu Ratnanya disini aja,,, ucap Radian menuju meja kerja, dari kalimat yang diucapkannya terlihat jelas jika lelaki itu berusaha menahan Aqila diruangannya dan ingin lebih menikmati pemandangan dari tubuh gadis belia itu.

Punya Om Lurah sepertinya lebih besar dari punya Uwak Zaelani deh,,, hihihi,, celetuk Aqila tiba-tiba, membuat Radian kaget dan memandangi celananya yang menampilkan tonjolan besar dari kemaluannya yang mengeras.

Dengan cepat Radian duduk berusaha melindungi tonjolan dicelananya dibalik meja. Tapi itu justru membuat Aqila tertawa, Santai aja Om,, kita kan ngga ngapa-ngapain,,, kalo sekedar liat bolehkan?,, hihihi,,

Matanya dengan cuek menyapu seluruh isi ruangan mencari-cari sesuatu yang menarik baginya. Bete,, ruangan om ngga ada yang asik?,,, ucapnya lalu membuka tas nya, sepertinya gadis itu memilih untuk belajar karena ujian disekolahnya memang belum selesai.

Melihat Aqila yang akhirnya bisa menjadi serius membuat Radian sedikit bernafas lega, lalu ikut menyibukkan diri dengan berkas-berkas yang ada dimeja.

Koq ngeliatin Om gitu sih?,,, celetuk Radian, membuat Aqila nyengir ketangkap basah sedang memperhatikannya.

Om,,, selingkuhan sama Aqila yuk,,,

Weekkss,,, kamu ini ngomong apa sih,,,masih kecil koq ngomong gitu,, sekolah aja yang benar, kalo ngga naik kelas nanti bisa dimarahin ibu mu,,,

Hehehe,, habisnya iri aja liat Ratna tiap hari dimanjain terus sama Uwak Zaelani,, jawabnya, lalu kembali menundukkan wajah, kembali serius dengan rumus-rumus matematika. Sebagian rambutnya yang bergelombang menutupi wajah imut yang harus diakui telah memiliki kecantikan seorang gadis remaja.

Namun bukan hanya wajah imut itu yang menjadi perhatian Radian, tapi belahan payudara mungil yang mengintip dari celah tanktop telah membangkitkan fantasi liar Radian. Mengingatkan lelaki itu akan cerita Aqila tentang aksi Zaelani yang tengah menunggangi Ratna dalam posisi menungging.

Sekali lagi Radian menggeleng-gelengkan kepala, berusaha menyingkirkan gairah liar yang datang dengan tiba-tiba. Tapi tetap saja begitu sulit mengalihkan pandangan dari payudara Aqila yang tampak menggantung akibat tinggi meja sofa yang terlalu rendah dari posisi duduknya.

Om, rumus yang ini gimana sih,,, koq hasilnya beda terus dengan yang dikunci jawaban,, celetuk gadis itu tiba-tiba. Dengan berat Radian beranjak dari duduknya, karena baginya lebih asik menikmati keindahan tubuh Aqila dari jarak yang aman.

Hanya dalam beberapa menit Radian dibuat kagum oleh kecerdasan otak Aqila, matanya melihat secara langsung bagaimana tangan mungil Aqila bergerak dengan cepat menggoreskan angka-angka seiring dengan otaknya yang dipacu untuk memecahkan rumus yang baru diterangkan oleh Radian.Hanya saja gadis itu sedikit teledor dalam menempatkan titik dan koma.

Dengan posisi duduk yang bersisian jelas membuat fantasi Radian untuk menikmati payudara mungil gadis itu sedikit terganggu, karena terhalang oleh tangan Aqila.

Akhirnya Radian memilih menyerah dan menyandarkan tubuh ke sandaran sofa, sambil menertawakan kenakalannya pada seorang gadis yang masih duduk dibangku sekolah.

Bener ya, katanya Zidan itu pacarnya Aqila?,,,

Aqila tertawa, tapi tangannya masih terus bergerak menghitung Iya om,,, tapi tangannya Ka Zidan nakal banget hahahaa,,, jawabnya santai.

Nakal gimana?,,,

Ya itu,, tiap kali mojok berduaan pasti tangannya kelayapan ngeremas-remas nenen Aqila,,hihihi,,,

Apa ngeremas seperti ini,,, Radian tak mampu menghentikan tangannya yang bergerak menyelusup diantara tangan dan tubuh Aqila lalu meremas bulatan payudara yang menurut taksiran lelaki itu seukuran 32b, ukuran yang cukup besar untuk gadis seusia Aqila.

Aqila terkejut, menghentikan aktifitasnya, menatap Radian dengan malu-malu, lalu mengangguk membenarkan. I,,Iyaaa,,, tapi lebih nakal lagii,, keterangan Aqila seakan menjadi lampu hijau bagi Radian untuk meremas semakin kuat dan menjelajah payudara satunya.

Aqila berusaha melemparkan senyum dan kembali menyibukkan dirinya dengan angka-angka. Sementara tangan Radian dibiarkannya terus bermain di payudaranya, seolah apa yang dilakukan pemimpin desa itu tidak mengganggu dirinya.

Apa Zidan sudah sering ngelakuin ini?,,,

Aqila cuma bisa mengangguk, karena bibirnya terkatup rapat menahan rasa geli dan gairah. Tapi tetap saja gadis centil berusaha terlihat cuek meski tubuhnya tak lagi tenang.

Eeemmpphh,, tangan Kak Zidan juga sering koq mampir ke bawah pusar Aqila,,,

Tangan Radian bergerak ragu, namun akhirnya tiba juga diselangkangan gadis itu. Kesini?,,,

Aqila mengangguk, Aqila kira Om cuma bernafsu sama wanita dewasa, ternyata sama gadis SMA tangannya suka gerayangan juga yaa?,,,

Sialaan,,, dengan cepat Radian menarik tangannya, sadar jika gadis itu tengah mengerjainya. Hihihi,,, ngga apa-apa koq Om,, Kak Zidan juga sering gitu kalo Qila lagi belajar,

Meski Aqila menganggap apa yang dilakukannya bukanlah sesuatu yang mengganggu dirinya, tetap saja Radian diam tak bergeming, terlanjur malu oleh ulah Aqila yang sukses mempermainkan hasrat kelelakiannya.

Om,,, ada kertas yang tidak terpakai, buat corat-coret rumus?,,, tanya Aqila yang kemudian tersenyum saat tau Radian masih memperhatikannya.

Ennghh,, sepertinya tidak ada,, corat coretnya pakai white board itu aja, spidolnya ada dilaci,,,

Aqila berdiri lalu mengambil spidol dilaci meja yang ada tempat disamping white board seukuran 2×1 meter. Radian meneguk ludahnya saat menyaksikan gadis itu menungging memamerkan pantat yang membulat padat.

Celana dalam Aqila yang tercetak jelas dibulatan pantat yang dibalut legins putih semakin membakar hasrat Radian.

Tanpa diduga lelaki itu melangkah menutup pintu dan menguncinya. Mendekati gadis yang masih sibuk mencari spidol dilaci, lalu ikut membungkuk dengan tubuh mungil Aqila dibawahnya. Sudah ketemu spidolnya?,,, bisiknya tepat ditelinga Aqila yang terkaget.

Belum om,,, bantuin nyari dong,,, goda Aqila, wajah imutnya tersenyum saat merasakan Radian menggesekkan tubuh kebagian pantatnya. Om,, koq posisinya sama persis dengan Ratna dan Uwak Zaelani, sih,,

Masa sih,,, tapi tangan Uwak Zaelani pasti ngga sambil ngaduk-ngaduk isi laci, tapi sambil megang ini kan?,,, jawab Radian sambil melayangkan telapak tangannya ke payudara Aqila.

Eeeenghhh,,, iyaa oom,,, tadi nenen nya Ratna juga diremesin sama Uwaaak,, Aaawwhhh,,, Ooomm,, putingnyaaa jangaaan dipenceeeet,,, geliii,,, Eeeeenngghhh,,, Aqila menggeliat tapi terus membiarkan tangan Radian yang kini berusaha menyibak bra mungilnya.

Radian tertawa melihat wajah Aqila yang meringis menahan geli akibat puting merah mudanya dimainkan oleh jari-jarinya yang nakal. Sekarang posisinya sudah sama dengan Ratna?,,, tanya Radian menggoda.

Bee,, beelumm om,,, beluumm,,

Apalagi yang kuraang, cantik?,,, meski tau apa yang dimaksud oleh Aqila, tapi Radian tidak yakin gadis itu berani mengucapkannya.

Punyaaa Oom,,, beelum dimasssuuukin ke memek nya Qilaaa,,,

Radian terkejut mendengar kalimat yang diucapkan Aqila dengan begitu jelas dan vulgar. Tapi tidak sekedar ucapan, karena meski terlihat ragu-ragu kedua tangan Aqila bergerak memegangi tepi celana leginsnya dan dengan pelan bergerak menarik kebawah hingga ke lutut.

Qilaaa,,,

Gadis itu mengangguk sayu atas tatapan mata Radian yang masih tidak percaya. Lelaki itu bangkit, memandangi pantat mulus Aqila yang sejak tadi membuatnya penasaran, dan kini telah terekspos bebas.

Aqilaaa,,,, bisik Radian yang sudah menurunkan celananya namun yang masih ragu untuk melakukan penetrasi keliang senggama milik seorang gadis belia.

Om,,,Kenapa ga dimasukin?,,, tanya Aqila, ngga apa-apa koq Om, kan cuma numpang naruh titit dimemek Aqila,,, Oooowwhhh,,, Oooom,,, gadis itu menatap Radian dengan tubuh yang bergerak kebelakang, mendorong masuk batang kejantanan yang sudah berada didepan bibir vaginanya.

Ooooowwhhh,,, tuuu beneerrr kaaaan,,, punya om gedeeee bangeeeet,,, gerak pinggul Aqila tertahan, cukup sulit bagi vagina mungilnya untuk melahap seluruh batang Radian. Eeeenghh,,, Om,, bantuin dooong,,, rengek Aqila lalu membuka belahan pantatnya.

Tangan Radian yang sebelumnya asik meremasi payudara Aqila kini mencengkram pinggul gadis itu, Oooowwhhh,,, sempurrnaaaa,,, dengus lelaki itu saat menyaksikan bagaimana setengah dari batangnya sudah menyelusup masuk.

Aqilaa,,, tahaaan yaaa,,, Uuugghh,,,

Oooowwwhhhh,,, Oooowwhh,,, massuuukk,, massssukk,, kedua tangan Aqila mencengkram meja, lalu menoleh sambil tersenyum nakal. Ayoo Om,,, silaaahkan dihajaaar,,,

Ugghh sialan,,, umpat Radian yang merasa justru dirinya yang tengah diajari oleh gadis kecil itu bagaimana cara melakukan hubungan percintaan. Sambil terus meremas pinggul dan pantat Aqila, Radian menghujam batangnya semakin cepat.

Pantas saja Zaelani tergila-gila pada tubuh Ratna, Ugghhh,,,,

Oooowwhhh,,, Omm,, pelan sedikit dooongss,,, nafsu bangeeet siih,,, Aqila menoleh, tersenyum genit menggoda Radian, menegakkan tubuhnya meminta agar lelaki yang tengah menikmati servis dari vagina mungilnya itu memeluk tubuhnya.

Kini kedua payudara Aqila tak ubahnya layaknya tali kekang ditangan Radian, tubuh mungilnya terhentak-hentak saat lelaki yang jauh lebih tua darinya menghentak semakin cepat dan penuh nafsu. Hingga akhirnya tubuh belia nya mengejang menerima orgasme. Ooooggghh,, tuusuukin yang daaalaaam,,, Aaaagghh,,, pekiknya heboh, lalu tertawa puas.

Setelah puas menikmati tubuh Aqila dari belakang, Radian membopong tubuh gadis itu dan membaringkannya disofa. Aqila tersenyum lebar saat Radian menggeleng-gelengkan kepala melihat bagaimana bibir vagina yang baru saja dihajar oleh batangnya kembali menutup rapat.

Gilaaa,,,

Koq gila sih Om,,, punya Om tuh yang gilaaa,,, sudah tau ini memek gadis SMA masih aja berani nusuk,, mana batangnya besar dan panjang banget lagi,,gadis itu memeletkan lidahnya, kedua jarinya menguak bibir vagina yang kemerahan, Ayo dong Om,, Qila penget liat batang Om yang gede itu dimakan memek nya Qilaa,,

Mata gadis itu terbuka lebar menyaksikan detik-etik pergerakan kepala jamur yang besar perlahan menghilang dilahap oleh alat pipis nya. Iyaaa,, Ooowwhhh,, Iyaaa Om,,, teruuusss sediiiikiiit laggiiii pinggul Aqila terangkat, meminta batang itu agar terus memasuki tubuhnya.

punya Oom hebaat,,, udah mentok tapi masih keliatan aja batangnya diluar,,, hihihi,, sini dong Om,, manjain Qilaa,,, setelah melepaskan tanktop dan bra yang masih melekat, direntangkannya kedua tangan meminta Radian menindih dan memeluk tubuh mungilnya.

Memangnya batang siapa saja yang udah Qila masukin kesini?,,, tanya Radian yang yakin bila gadis itu memang sudah tidak perawan dan sangat berpengalaman, pinggulnya bergerak pelan, sementara lidahnya mencucupi payudara dengan puting yang kemerahan bergantian.

Punya nya Kak Zidan Om,,, tapi batangnya ngga ada apa-apanya dibandingkan punya Om,,,

Nakal kamu yaa,,, memangnya kalian biasa ngelakuin dimana?,,

Disamping kandang sapi belakang rumah Kak Zidan,, hihihi,,

Hahaha,, Benar-benar nakal kamu yaaa,,,

Yang nakal itu Om,, tadi aja waktu diwarung melototin nenennya ibu Aqila terus, sekarang malah nidurin anaknya,, hihihi,,, tapi nenen ibu memang besar ya Om,, mendengar kata-kata Aqila Radian semakin bernafsu menghujamkan batangnya, Ooowwhhh,,, pelaaan Om,, Qila kan masih capek habis muncrat tadiii,, Ooowwh,,

Iyaaa,, Ooowwhh,,, nenen ibu mu memang besaaar dan kencaaaang,,, tapi punyamuuu juga Koooq,,,

Ooowwhh,, Om,, pengen ngeentotin ibu Qilaaa jugaaa yaaa?,,,

Peeengeeen bangeeeet,,, tapi nanti Ayah mu maraaah,,, Uuugghh,, Qilaaa memek mu banjiiirr,,,

Tenaaang Om,, ntar Qilaaa bantuiiin koq biaaar bisaaa ngentotiiin ibu nyaaa Qilaaaa,,, Ooowwhh,,, Ommm,,,, Aduuuhh,,, kaloo gini Qilaaa yang nggaa kuat Om,,,

Paha mungil Aqila terentang lebar, pasrah membiarkan Radian yang seolah tengah berusaha memasukkan seluruh batangnya kedalam liang mungil itu.

Qilaaaa,,, Ooowwhhh,,, Om jugaa ngga kuaaaat,,, Omm maauu keluuaaarrr,,,

Jaaaangaaan dilepasiiin Ommm,,, buaaang didaaalaaaam,, Aqila menatap wajah Radian dengan pucat akibat orgasme yang juga bersiap menyapa. masuukinnn bataaaangnya yaaang dalaaaaam Oomm,, Iyaaa,,, iyaaa,, disittuuuu, silaaahkaaan keluaaarinn disituuu,,,, Ooohwwgghhh,,,

Tubuh Aqila mengejat-ngejat, melengkung memeluk Radian dengan erat, orgasmenya terasa begitu sempurna saat Radian menghamburkan bermili-mili cairan kental didalam rahimnya.

Ooowwhhh,,, Om hebat bangeeet,,, ucap Aqila sambil menciumi dada lelaki yang menindih tubuhnya, masih dirasakannya batang kejantanan yang terselip divaginanya sesekali berkedut, menggelitik dinding kemaluannya.

Doog,, Doog,, Doog,,,
Pak Luraaaaah,,, Keluaaaar Paaaak,,,
Keluaaaaar,, kami tau bapaak ada didaalaaam,,,

Terdengar pintu yang digedor dengan keras, dan teriakan bersahutan penuh kemarahan.

Astagaaa,, Qila cepat kenakan bajumu,,, perintah Radian yang terkejut, dirinya yang terlalu asik menikmati tubuh Aqila tidak menyadari ada keributan diluar, dan sepertinya sudah masuk hingga didepan pintu ruang kerjanya.

Dengan panik keduanya kembali berpakaian, Om,,, Qilaa takut,,, isak gadis itu ketakutan.

Bersambung…

Author: 

Related Posts

Comments are closed.